LAPORAN BACAAN KETIGA
Nama : Dina Oktavira
Nim : 12001221
Kelas : 4 F PAI
Karakteristik Peserta Didik
Dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta, peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pentingnya pendidikan Al-Qur'an dapat dilihat pada beberapa hal, yang pertama pada tujuan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an.
Al-Qur'an adalah kalam atau firman Allah, Kitab suci mulia yang paling Paripurna. Pedoman dan landasan hidup setiap manusia beriman yang mengakui Allah subhanahu wa ta'ala sebagai Tuhan yang maha esa, isinya mencakup segala segi kehidupan manusia kemuliaan umat manusia tergantung kepada bagaimana mereka berinteraksi terhadap Al-Qur'an. Begitu pentingnya membaca Al-Qur'an hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan, "Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara, mencintai nabi mu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Al-Qur'an" (HR. At- Tabrani) dan hadis yang lainnya "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya"(HR. Bukhari).
Hal-hal seperti demikian setidaknya memiliki empat manfaat yang dapat diperoleh yaitu, tercegahnya masalah kenakalan remaja, dapat menyempurnakan pendidikan agama di sekolah, meningkatkan kesadaran siswa akan kebutuhan terhadap pembinaan keagamaan dan rasa memiliki.
Kegiatan keagamaan khususnya tentang Alquran dan membuka lapangan kerja bagi alumni atau, orang yang berkewajiban memberikan ilmunya pendidikan Al-Qur'an. Secara bertahap membawa seseorang kepada pemahaman yang akhirnya mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi kepribadian yang terpuji untuk memperoleh pemahaman yang layak dari kajian tentang Al-Qur'an. Perlu dilakukan pendekatan untuk merefleksikan apa yang sedang dibaca.
Menurut Daoed Joesoef 2013 bahwa ada tiga elemen dasar pembentukan watak atau karakter bangsa Indonesia yaitu, pola pikir kebudayaan nasional dan Pancasila. Pertama pola pikir ini didasari oleh fakta empiris, religiusitas atau mitologi, politik etis dan generik generalisasi ilmia. Dari keempat dasar pola pikir tersebut ketiganya fakta empiris religius dan politik cenderung Divergent, yang pada akhirnya bisa membuat bias watak atau karakter bangsa kebudayaan nasional bangsa Indonesia. Dihadapkan pada tantangan keanekaragaman bentuk dan latar belakangnya ini, bisa menjadi sebuah modal dasar yang positif dalam bingkai bhinneka tunggal Ika. Tetapi tak jarang menimbulkan tantangan tersendiri, dalam pengolahannya ketiga Pancasila adalah merupakan modal positif untuk menjadi butir-butir yang pantas menjadi filosofi. Tetapi belum cukup untuk menjadi sistem filosofi bangsa sebagai butir-butir yang pantas menjadi filosofi, perlu diuraikan lebih dalam menjadi sistem filosof.
Pendidikan karakter adalah, suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter kepada warga sekolah. Yang meliputi komponen pengetahuan kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan yang maha esa, diri sendiri, dan sesama lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia Paripurna atau insan Kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah semua komponen (stakeholder), harus dilibatkan termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara, utuh, terpadu, dan seimbang , sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Melalui program ini diharapkan setiap lulusan memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademiknya utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter yang diharapkan menjadi budaya sekolah.
Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait keterkaitan dengan manajemen atau pengelolaan sekolah , pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainny. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekola. Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. Budaya sekolah yang dimaksud yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.
Pembentukan karakter peserta didik melalui pendidikan berbasis Alquran dimaksudkan, dapat melakukan pembiasaan dan keteladanan, pembinaan, disiplin, memberi hadiah dan hukuman, menerapkan pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan partisipatif yang dilakukan secara berkelanjutan dan secara terpadu oleh pendidik terhadap peserta didiknya, baik di rumah di sekolah atau di masyarakat. Pendidikan berbasis Al-Qur'an ini sebenarnya telah diterapkan sejak lama, melalui pendidikan surau yang sekarang umumnya dilaksanakan melalui pendidikan di sekolah atau madrasah, melalui mata pelajaran PAI dan Quran hadits dan TPA dan yang tersebar diseluruh Nusantara.
Ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa, karakter seseorang dapat mempengaruhi kesuksesan seseoran. Di antaranya berdasarkan penelitian di Harvard university Amerika serikat (Sudrajat 2013) ternyata, kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis saja tetapi lebih kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan, lebih banyak didukung oleh kemampuan soft skill daripada hard skill, hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatka. Sementara itu megawangi (2007) mencontohkan bagaimana kesuksesan China dalam menerapkan pendidikan karakter, sejak awal tahun 1980-an pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good (suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif emosi dan fisik sehingga berakhlak mulia).
Sumber : https://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/2788/2310
Komentar
Posting Komentar